kekerasan_anak_100723173939Pendidikan anak dalam Islam pada dasarnya adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Membina dan mendidik seorang anak agar menjadi anak yang shaleh merupakan tugas dan kewajiban setiap orang tua atau pendidik. Tentunya tugas tersebut tidaklah mudah dan selalu memerlukan suatu proses dan cara yang bijaksana, karena apabila tugas tersebut dilakukan dengan cara yang kurang baik, hal itu juga akan berakibat tidak baik pula untuk perkembangan sang anak.

Dalam mendidik seorang anak, terkadang ada beberapa problematika yang dihadapi oleh orang tua. Terutama masalah metode dalam mendidik dan membimbing tingkah laku seorang anak. Beberapa metode yang sudah lazim dilakukan oleh orang tua kepada anak yang dalam pandangan kasap mata metode tersebut cukup baik dan dapat menjadikan anak lebih berprestasi, taat kepada kedua orang tua, shaleh, memiliki tingkah laku yang baik. Namun secara substansial, metode tersebut sebenarnya tidak benar karena dapat menimbulkan dampak negatif bagi kejiwaan anak. Beberapa metode tersebut adalah;

Pertama: Metode pemberian imbalan, tujuan dari metode ini tidak lain adalah untuk mengambil hati sang anak, serta untuk menekan sang anak agar melaksanakan perintah yang diberikan oleh orang tua agar sang anak bisa memperoleh hadiah ataupun imbalan. Secara sepintas metode ini memiliki banyak kelebihan, akan tetapi tidak pula bisa lepas dari dampak negatif terhadap masa depannya. Sebab hal tersebut bisa berakibat pada diri anak yang melakukan perintah bukan ia menghormati perintah yang diberikan orang tua namun semata-mata perintah yang dilakukannya adalah karena ia akan mendapat keuntungan materi atau imbalan dari orang tuanya.

Kedua: metode pengukuhan kekerasan, sebagian besar orang tua sudah menggunakan metode ini terhadap anak-anak mereka. Terkadang orang tua memberikan ancaman kepada anak yang tidak menuruti perkataan orang tuanya, bahkan ada juga orang tua yang menggunakan kekerasan (memukul) apabila sang anak tetap tidak mau menuruti perkataan orang tuanya. Selain itu ada juga orang tua yang menakut-nakuti anak dengan gambaran-gambaran yang tidak baik supaya anak menjadi patuh. Sebagian besar orang tua beranggapan bahwa hal yang dilakukannya tersebut dapat membuahkan hasil yang baik bagi sang anak dan dapat meningkatkan prestasi anak di sekolahan. Metode ini sangatlah tidak baik bagi perkembangan kejiwaan anak, karena bisa jadi sang anak akan selalu diliputi bayang-bayang ancaman yang diberikan oleh orang tua, sehingga perkembangan kejiwaan anak akan terganggu.

Ketiga: standar ganda pada ayah dan ibu, di antara hal yang membingungkan bagi anak adalah perbedaan respons kedua orang tua terhadap suatu perbuatan atau tindakan anak. Seorang anak akan ragu mana di antara mereka yang benar dan harus diikuti? Oleh karena itu, kesepakatan dalam mendidik anak sangatlah diperlukan termasuk nilai-nilai yang harus diajarkan kepada anak, sehingga tidak akan terjadi sang ayah menyuruh sesuatu, namun sang ibu malah melarang hal yang sama.

Keempat: perasaan takut yang berlebihan, kebiasaan yang terlalu mengkhawatirkan seorang anak akan gagal dalam setiap perbuatannya dapat berakibat tidak baik bagi perkembangan psikologi anak, bahkan dari segi kesuksesan anak. Pendidikan yang baik adalah membiarkan anak belajar atau bekerja dengan sendirinya, kendati mengalami kegagalan atau keberhasilan. Karena pada akhirnya seorang anak akan belajar sendiri dari pengalamannya tersebut. Dengan memberikan imbalan berupa pujian kepada anak, hal tersebut membuat anak lebih berani dan terpacu mengerjakan segala hal yang diinginkannya, tentunya hal ini perlu dibarengi dengan peringatan terhadap hal-hal yang tidak terpuji.

Demikian sedikit uraian tentang dunia anak dan problematika pendidikannya dalam lingkungan sekitar kita yang selalu berjalan di setiap saat dan patut untuk diperhatikan bagi setiap orang tua. Semoga bermanfaat.

Bacaan:

Agus Suprijono, Coomparative Learning, Teori dan Aplikasi Paikem, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Abdurrahman Nawawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insan Press, 1996.

Komentar