kiai 3Proses globalisasi adalah suatu proses menuju keadaan budaya global. Mungkin di antara kita masih ada yang kurang menyadari bahwa proses itu akan mengubah hal-hal yang mendasar dan luas. Proses perubahan yang terjadi bukan mustahil berupa penyimpangan-penyimpangan nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya, misalnya sebagaimana yang diinginkan oleh Pancasila dan agama yang kita yakini. Kegusaran kita terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi membawa kita kembali menoleh ke pesantren, suatu lembaga yang telah membuktikan dirinya mempunyai daya tahan terhadap perubahan-perubahan nilai.

Dalam zaman pembangunan sekarang ini, perlebih lagi menghadapi proses globalisasi yang semakin deras, bukanlah hal yang mustahil sosok kiai dapat memberikan andil yang sangat berharga. Kekuatan kepemimpinan seorang kiai telah terbukti dalam mempercepat proses pembangunan terutama di wilayah pedesaan. Pesan-pesan pemerintah sebagai perancang, pelaksana dan pengawas pembangunan sering kali menjadi efektif dipahami oleh rakyat bila pesan-pesan tersebut dibantu oleh kiai.

Menurut Horikoshi, kekuatan seorang kiai atau ulama berakar pada 1) kredibilitas moral 2) kemampuan mempertahankan pranata sosial yang diinginkan. Menurutnya tidak semua fungsionaris Islam adalah ulama dan tidak semua ulama mempunyai kedudukan wibawa dan pengaruh yang sama. Gelar ulama ataupun kiai diberikan oleh masyarakat muslim karena kealiman mereka dan karena pelayanan yang mereka berikan kepada masyarakat. Oleh karenanya, ,apabila seorang kiai turun hanya menjadi ustadz maka status sosialnya juga menurun dan pengaruhnya dalam masyarakat juga menurun.

Apa yang disimpulkan oleh Horikoshi sepertinya memang benar adanya. Kewibawaan seorang kiai memang bersumber pada dua hal tersebut, yakni kredibilitas sosial dan kemampuan mempertahankan pranata sosial. Kredibilitas sosial dibina antara lain dengan dukungan kealiman, keshalihan perilaku dan pelayanan kepada masyarakat muslim. Ahmad Tafsir menambahkan satu unsur yang kelihatannya kurang mendapat perhatian oleh para peneliti yakni adanya kemampuan-kemampuan supra-rasional yang dimiliki oleh seorang kiai. Menurutnya, unsur ini amat besar pengaruhnya untuk mengukuhkan seorang kiai sebagai orang yang berwibawa.

Kekuatan seorang kiai juga karena kemampuan menjaga pranata sosial. Pranata di sini artinya peraturan-peraturan, tradisi-tradisi yang hidup dalam masyarakat. Memang benar adanya, kekuatan seorang kiai juga ditentukan oleh kemampuan menjaga pranata-pranata yang ada di wilayah sekitar, bahkan sebagian dari kekuatan pertama tadi akan hilang bila pranata yang ada tidak dilestarikan. Dari sini dapatlah dilihat peranan seorang kiai dan pesantren dalam memosisikan dan mengambil peran untuk membangun dan memajukan masyarakat.

Sumber bacaan:

Hikoro Horikosi, Kiai dan perubahan sosial, Trj. Umar Salaim dan Andi Muarly S, Jakarta: P3M

Rahardjo Darwan, Pergulatan Duania Pesantren, Jakarta: P3M

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Komentar